Home / berita umum / Tangkap 5 Pengedar di Bantul, Polisi Sita 25 Ribu Pil Koplo

Tangkap 5 Pengedar di Bantul, Polisi Sita 25 Ribu Pil Koplo

Tangkap 5 Pengedar di Bantul, Polisi Sita 25 Ribu Pil Koplo – Satresnarkoba Polres Bantul menciduk 5 pengedar obat-obatan model psikotropika bermacam merk. Dari penangkapan itu, polisi sukses mengambil alih 25 ribu pil yang ingin disebarkan banyak terduga.

Kasat Resnarkoba Polres Bantul, AKP Andhyka Donny menyampaikan, penangkapan pada lima terduga berasal dari info warga yang diteruskan dengan penyidikan. Terkecuali itu, ke-5 terduga diamankan sepanjang dua hari dengan tempat penangkapan yang berlainan.

“Pertama kita tangkap AD tempo hari Senin (4/2/2019) di (Dusun) Donoloyo, Tamanan, Banguntapan (Bantul). Terkecuali itu, waktu penangkapan kita pun mengambil alih beberapa ribu pil psikotropika dari tangan AD,” pungkasnya waktu jumpa wartawan di Polres Bantul, Jumat (8/2/2019).

Mengenai tanda bukti dari penangkapan pada Andoko alias Ndopong (34), masyarakat Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Bantul yaitu 600 pil warna kuning berlambang MF, 50 butir pil Alprazolam, 1.000 butir pil Heximer serta 5.000 butir pil Trihephenidyl.

Dengan bekal info dari Ndopong, polisi juga mengerjakan peningkatan serta selanjutnya tangkap 3 terduga yang lain yaitu Alfian Ihsan Rahmad alias Apek (19), Edi Santoso alias Ganden (29) serta Supriyadi (32), masyarakat Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul dalam hari Selasa (5/2/2019).

Diterangkan Andhyka, ketiganya diamankan di Desa Bangunharjo dengan tanda bukti 127 pil Trihephenidyl yang telah dikemas dalam plastik klip serta bungkus plastik.

“Jadi dari penangkapan 5 terduga sepanjang 2 hari itu ada seputar 25 ribu pil yang kita sita. Dari 25 ribu pil yang diambil itu sangat banyak pil Trihephenidyl terus Heximer,” tuturnya.

Menurut Andhyka, dari pernyataan Sigit Hari Wibowo (35), masyarakat Blimbingsari, Caturtunggal, Depok, Sleman itu beberapa ribu pil itu memang ingin disebarkan. Terkecuali itu, dari pernyataan juga nyata-nyatanya Sigit memperoleh pil itu dari beli melalui salah satunya sosmed serta setelah itu di kirim ke Yogyakarta.

Ke-5 terduga, lanjut Andhyka, nekat berubah menjadi pengedar obat-obatan terlarang sebab tergiur dapat keuntungan yang didapat. Mengingat dari penjualan satu toples pil Trihephenidyl, mereka memperoleh keuntungan sampai 3 kali lipat.

“Motifnya sebab tergiur keuntungan yang besar, sebab 1 toples isi 1.000 butir itu harga nya Rp 1 juta serta jualnya diecer 10 butir seharga Rp 35 ribu. Jadi uang yang diperoleh mereka dari jual satu tolpes itu seputar Rp 3,5 juta,” pungkasnya.

Andhyka memasukkan kelimanya konsisten diolah seterusnya serta dijaring dua kasus, yaitu kasus 62 Undang-undang (UU) nomer 5 tahun 1997 terkait psikotropika dengan bahaya pidana 5 tahun penjara, serta kasus 196 UU nomer 36 tahun 2009 terkait kesehatan dengan bahaya 10 tahun penjara.

About admin